PRASANGKA DAN DISKRIMINASI

Rasisme

Kata “rasisme” pertama kali digunakan secara umum pada 1930-an. Fenomena rasisme sebenarnya sudah muncul jauh sebelumnya. Pengertian rasisme itu sendiri selalu berubah. Tribalisme, xenofobia, keangkuhan dan prasangka serta permusuhan dan perasaan negatif terhadap satu kelompok etnis atau bangsa yang lain — kadang diiringi dengan sikap brutal — sering kali dihubungkan dengan rasisme.

Rasisme tak hanya ada di Afrika di mana apartheid menjadi mars manusia kulit hitam kala itu, atau di Jerman, di mana rasisme menjadi ideologi mematikan sejak der fuhrer menginjeksi masyarakatnya dengan Mein Kampf-nya. Sekarang rasisme punya potensi hadir di mana-mana, termasuk melekat dalam setiap partikel otak manusia. Pengertian rasisme klasik selalu mengandaikan perbedaan yang tajam antara warna kulit: hitam/putih .

Sekarang sudah sering terjadi tindakan rasisme terja di di dalam kehidupan sehari – hari . Saya ambil contoh saja di dalam bidang olah raga , misalnya sepak bola . Di dalam sepak bola cukup sering terjadi tindakan rasisme yang dilakukan oleh supporter sepakbola , pemain , sepak bola , bahkan ada seorang pelatih pun pernah ada yang melakukan tindakan keji tersebut . Biasanya dalam sepak bola , penonton yang lebih sering melakukan tindakan rasisme dengan sasaran pemain dari kubu lawan yang berkulit hitam . Contohnya beberapa tahun yang lalu , di Liga Spanyol , pemain Barcelona Samuel Eto’o yang berkulit hitam mendapat tindakan tak mengenakan dari supporter lawan . Saat Samuel Eto’o menguasai bola , para supporter lawan selalu mengeluarkan suara – suara menyerupai monyet . Menerima tindakan tersebut , Eto’o pun sangat kecewa dan sempat ingin keluar dari lapangan saat pertandingan masih berlangsung . Untung rekan – rekan satu timnya berhasil membujuknya dan memberikan semangat kepada Eto’o untuk terus bermain . Tindakan tersebut sangat mencoreng persepakbolaan yang merupakan salah satu olahraga terpopuler di dunia .

Setelah kejadian tersebut , organisasi persepakbolaan dunia FIFA dan organisasi sepak bola eropa UEFA tidak mau mengambil resiko . Setelah melakukan penyelidikan , FIFA dan UEFA memberikan sanksi keras dengan melarang supporter tersebut menyaksikan langsung tim kesayangannya bertanding di partai kandang . FIFA dan UEFA pantas memberikan sanksi yang keras kepada pelaku rasisme karena dapat melunturkan persatuan dan kesatuan dan persaudaraan karena sepak bola bisa dijadikan media untuk mempererat persatuan dan kesatuan dan persaudaraan . Untuk itu , kita harus memusnahkan tindakan rasisme dari kehidupan kita sehari – hari . RACISTS HAVE NO CHANCE IN OUR NEIGHBORHOOD !!!

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s